Pelaksanaan Nilai Pancasila Penting Saat Pemilu

Diajak Memilih Malah Tanya ‘NPWP’

 

DENPASAR,-Anggota Badan Sosial MPR RI Fraksi Golkar Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra alias Gus Adhi menegaskan pengamalan Nilai-nilai Pancasila, khususnya sila ke-4 dalam proses demokrasi perlu dikuatkan untuk mengikis pragmatisme pemilih di setiap event Pemilu.

 

 

Kata Gus Adhi masyarakat masih terjebak dengan sikap pragmatis saat Pemilu. “Saat diajak memilih di Pemilu malah tanya ‘NPWP’. NPWP yang saya maksud, nomor piro wani piro? (nomor berapa berani berapa,red),” ujar Gus Adhi disambut sorak tertawa peserta sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, di Keuskupan Denpasar, Jalan Tukad Balian, Kelurahan Renon, Denpasar Selatan, Jumat (1/4) pagi.
Dalam sosialiasi 4 pilar dengan tema ‘Peran Kepemimpinan Perempuan untuk Gereja Masyarakat dan Negara’ itu, Gus Adhi mendorong berbagai elemen masyarakat termasuk kaum perempuan harus memperkuat pengamalan dan pelaksanaan Pancasila dalam proses berdemokrasi. Dalam sila ke-4 Pancasila disebutkan: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

Nah, dalam pengalaman Pancasila sila ke-4 ini, Gus Adhi menambahkan, dalam setiap event politik atau Pemilu, oknum yang memanfaatkan istilah ‘NPWP’ terus mencari mangsa. Sehingga hal itu dapat merusak proses demokrasi di Indonesia. “Jadi, hilangkan dan kikislah istilah ‘NPWP’. Ketika memilih wakil rakyat di Pemilu, maka ibu-ibu harus rasional, jangan karena uang. Dengan demikian kaum perempuan sudah ikut berperan memajukan dan meningkatkan kualitas demokrasi kita,” ujar Anggota Komisi II DPR RI dapil Bali ini.

Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan kemarin dihadiri Wakil Direktur Doktoral Universitas Pertahanan Dr Herlina JR Saragih. Sosialiasi diikuti para mahasiswa, organisasi wanita, tokoh perempuan. Gus Adhi menyebutkan, perempuan juga punya peluang jadi pemimpin. Sehingga harus menjaga proses demokrasi di Indonesia agar sesuai dengan sila ke-4 Pancasila.

Gus Adhi menyebutkan dirinya setiap maju mencalonkan diri di Pemilu tidak pernah mau mengajarkan permainan-permainan uang meraih suara kepada masyarakat. “Saya dua kali lolos ke DPR RI dapil Bali tidak satu sen pun membeli suara,” ujarnya.

Mantan Anggota Komisi IV membidangi pertanian ini menyebutkan dirinya hanya bermodal program pembinaan masyarakat melalui peternakan Lele dan program bertani, dengan cara membagikan ilmu bertani dan berternak. “Saya hanya sebar bibit lele, saya ajarkan berternak Lele untuk kelompok masyarakat di desa-desa. Jadilah saya Anggota Dewan karena mengurusi Lele,” tegas politisi asal Kelurahan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung ini.

Gus Adhi bercerita dirinya sampai dijuluki politisi Dagang Lele oleh mantan Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta, politisi senior Partai Golkar asal Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Saat itu Sudikerta menghadiri satu acara di Kabupaten Badung. “Saat itulah saya diperkenalkan oleh Pak Sudikerta, bahwa saya politisi Dagang Lele,” beber Gus Adhi disambut tepuk tangan peserta sosialisasi. *Nat
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on google
Google+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *